Ekonomi Tuban (masih) Bergantung pada Industri Pengolahan

927
0

Semua daerah pasti memiliki sumber daya yang menjadi sektor utama pembangunan. Oleh sebab itu, masing-masing daerah juga memiliki struktur ekonomi sendiri yang menjadi penopang perekonomian mereka.

Struktur ekonomi di Kabupaten Tuban sampai sejauh ini masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yakni industri pengolahan; pertanian, kehutanan dan perikanan; serta perdagangan besar dan eceran: reparasi mobil dan sepeda motor.

Pada tahun 2018 kemarin, tiga lapangan usaha itu menyumbang 62,76 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai 60,8 triliun Rupiah.

Lapangan usaha industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sebesar 28,92 persen atau senilai 17,59 triliun Rupiah. Angka ini mengalami kenaikan dibanding tahun 2017 lalu yang mencapai 15,64 triliun Rupiah atau menyumbang 27,68 persen terhadap total PDRB.

Industri pengolahan memang menjadi primadona ekonomi di Tuban. Selain bertugas untuk memenuhi kebutuhan domestik, industri pengolahan juga memiliki pangsa pasar yang cukup besar di pasar nasional maupun internasional.

Pada tahun 2018 ini juga lapangan usaha industri pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 9,71 persen. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mampu tumbuh sebesar 5,78 persen.

Sementara itu, di dalam lapangan usaha industri pengolahan sendiri subkategori yang menjadi penyumbang terbesar dan mendominasi adalah industri galian bukan logam yang meliputi industri semen, kaca, barang keramik dan asbes semen. Subkategori ini berkontribusi sebesar 84,10 persen dari total sumbangan industri pengolahan untuk PDRB Kabupaten Tuban.

Sudah kita ketahui bersama bahwa Kabupaten Tuban memiliki beberapa industri besar, salah satunya adalah industri semen. Setidaknya ada dua industri semen dengan skala besar di Tuban.

Subkategori lain di lapangan usaha industri pengolahan hanya berkontribusi di bawah angka 10 persen, diantaranya industri makanan dan minuman hanya berkontribusi sebesar 8,27 persen; industri kayu, barang dari kayu dan gabus hanya menyumbang 2,27 persen; dan industri pengolahan tembakau hanya sebesar 2,66 persen.

Berdasarkan data-data di atas, tidak salah jika perekonomian di Kabupaten Tuban masih sangat bergantung pada lapangan usaha industri pengolahan.

Nampaknya, dominasi sektor ini akan lebih dalam lagi terhadap struktur ekonomi di Tuban. Sebabnya, beberapa tahun ke depan akan dioperasikan Grass Root Refinery (GRR) Tuban.

Dengan kapasitas produksi sebesar 300-400 barel per hari dan serapan tenaga kerja yang mencapai puluhan ribu orang, kontribusi industri kilang ini akan menambah dominasi sektor industri pengolahan terhadap perekonomian dan meningkatkan angka PDRB Kabupaten Tuban.

Untuk diketahui, industri batubara dan pengilangan migas merupakan salah satu sektor yang masuk dalam subkategori lapangan usaha industri pengolahan. Pada tahun 2018 kemarin, sektor ini hanya menyumbang 0,13 persen dari total sumbangan industri pengolahan terhadap PDRB.

Tahun depan, lebih tepatnya pada 23 September 2020 mendatang, Kabupaten Tuban menjadi salah satu daerah yang menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Tentu saja, semua partai politik dan kandidat sudah mulai menyiapkan diri untuk bertarung dalam kontestasi 5 tahunan itu.

Kami berharap, masing-masing partai dan kandidat yang akan bertarung nanti tidak mengesampingkan data-data perekonomian yang ada di Tuban saat ini.

Sebabnya, dalam merencanakan pembangunan ekonominya, setiap daerah pasti membutuhkan data penunjang yang digunakan sebagai dasar penentu kebijakan.

Selain itu, salah satu permasalahan yang harus dipecahkan bersama saat ini adalah kemiskinan. Sampai sejauh ini, Kabupaten Tuban masuk dalam lima daerah termiskin di Jawa Timur. Padahal, industri-industri besar pberada di daerah yang mulai dikenal dengan sebutan Bumi Wali ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here