Kabid Perdagangan Diskoperindag Tuban, Tjatoer Enggar Poespito,

 

BT.com- Tuban, Sejak pencabutan moratorium pendirian swalayan atau toko modern dilakukan mulai akhir Februari lalu, belasan swalayan telah berdiri meski saat pandemi.

Pencabutan tersebut melalui Peraturan Bupati nomor 20 tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Nomor 12 tahun 2017 tentang Pedoman Perlindungan dan Pembinaan Pasar Tradisional, serta Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Tjatoer Enggar Poespito, Kabid Perdagangan pada Diskoperindag Tuban saat ditemui di ruang kerjanya menyampaikan, sedikitnya ada 14 swalayan yang sudah operasional.

“14 tersebut mayoritas di wilayah kota dan Kecamatan Semanding. Kalau total sekrang ada 71 Swalayan.” ungkapnya, Senin, (06/09).

Kenapa di wilayah kota, pihaknya menandaskan karena wilayah kota merupakan pusat perputaran kegiatan ekonomi masyarakat.

“Bagaimanapun juga setiap pendirian swalayan pasti mempertimbangkan teknis segi perputaran ekonomi yang akan diperoleh dari pendapatan dan prospek usaha,” imbuh Tjatoer.

Ia juga mengungkapkan, hingga saat ini ada 2 kecamatan yang belum ada swalayannya. Yakni, Kecamatan Kenduruan dan Grabagan, karena memang faktor dan dampak ekonomi menjadi pertimbangan.

Selain itu, dalam hal pendirian swalayan, pihaknya menegaskan bahwa setiap swalayan wajib menyediakan alokasi 10 persen terhadap produk lokal atau produk UMKM.

“Langkah itu sebagai keberpihakan kita untuk menampung dan memasarkan produk UMKM sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Tuban nomor 11 tahun 2020 tentang Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Mikro, Bab IV menyebutkan 10 persen ruang rak toko modern harus diperuntukan bagi UKM,” timpalnya.

Untuk diketahui, hingga saat ini total terdapat 71 swalayan atau pasar modern yang tersebar di Kabupaten Tuban.(Dinn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here