BT.com – Tuban, Para petani di Rt.04 Rw.09 Desa/Kecamatan Plumpang, menggelar kegiatan wiwit pari, di sawah tikungan tajam desa setempat pada hari Minggu 26 September 2021 kemarin.

Ada sekitar 50 orang petani yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, mereka adalah para petani yang memiliki sawah garapan di sekitar area tikungan tajam Rt 04 Rw 09.

Meskipun awalnya banyak petani yang menolak karena sudah ketinggalan zaman, akan tetapi pada akhirnya mereka menjadi sangat antusias, bahkan walaupun kegiatan sempat diguyur hujan malah membuat mereka semakin bersemangat.

“Alhamdulillah, Kegiatan yang menjadi sebuah simbol rasa syukur masyarakat ini, diikuti dengan sangat antusias oleh seluruh masyarakat,” kata Penggerak Pemuda Plumpang, Bambang Budiono, Senin,(27/09/2021).

Bahkan tidak hanya para petani yang memiliki sawah garap di sana, akan tetapi masyarakat tua muda hingga anak-anak juga ikut mengapresiasi.

Dijelaskannya, tradisi wiwit pari sudah bukan merupakan sesuatu yang baru, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat jawa.

Masyarakat khususnya generasi tua juga sudah sangat akrab dengan kegiatan ini, sedangkan petani-petani muda kebanyakan mempunyai cara mereka sendiri dalam setiap prosesi tanam dan panen padi.

“Anak muda cenderung lebih inovatif dan dengan mengacu pada sistem pertanian modern, sehingga tradisi semacam wiwit pari dirasa sudah ketinggalan diera pertanian modern tersebut,” beber Bambang sapaan akrabnya.

Salah seorang petani Desa Plumpang, Supandi mengatakan, kegiatan yang dimulai dengan mempersiapkan cokbakal atau mbakali, yaitu barang-barang sesaji yang dipersembahkan kepada tuhan yang maha esa.

Banyaknya anak muda yang terlibat dalam kegiatan tradisi samacam itu, diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, sehingga ke depan generasi muda juga masih tetap bisa melestarikan tradisi warisan leluhur.

Disisi lain, Kegiatan Wiwit Pari yang kental dengan nuansa tradisi jawa, membuat pandangan masyarakat terutama anak muda sedikit kurang berminat pada ritual tersebut.

Sehingga dalam kurun waktu yang cukup lama tradisi tersebut sempat hilang, karena sudah tidak ada lagi anak muda yang mau meneruskan kegiatan yang dianggap kuno itu.

Tokoh Masyarakat Desa Plumpang, Rasmat, menambahka, yang menarik adalah tradisi yang sudah tidak diminati oleh petani muda itu, justru kembali digiatkan oleh anak muda.

Para petani juga sangat senang dan menyambut dengan antusias, meskipun kegiatan itu sempat punah karena adanya isu-isu kegiatan menyimpang, tapi berhasil diluruskan kembali oleh anak-anak muda pula. (Dinn)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here