Foto: Dinn
Foto: Dinn

BT.com, Tuban – Keberadaan pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia lebih dari satu tahun ini telah mengakibatkan banyak sektor terdampak serius.

Namun demikian, setidaknya ada tiga sektor yang masih bertahan, yaitu agrobisnis (pertanian), teknologi informasi dan kesehatan. Sektor pertanian menjadi penopang pangan masyarakat Indonesia.

Hal itu kemudian menjadi alasan M. Ilyas Infarul Faizin (29) pemuda Dusun Lingit Desa Klotok Plumpang Tuban Jawa Timur yang selama tiga bulan terakhir ini serius menggarap pertanian hortikultura dan menanam buah melon menjadi pilihannya.

Pemuda yang pernah mengenyam pendidikan S1 di FKIP Pendidikan Biologi UNIROW Tuban dan magister (S2) di Universitas Sebelas Maret ini menyewa lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi. Ia bertani bersama dengan kedua kakaknya yang juga menanam melon di dekat lahannya.

Mereka total mengerjakan 1 hektar lahan untuk ditanami melon. Faizin sendiri menanam 4 pes bibit melon action, kakaknya 8 pes dan 9 pes. Total ada 21 pes di 1 hektar lahan.

“Jika 8 pes melon mampu meraup omzet 70 juta dan 100 juta di bibit 9 pes. Semua melon sudah dibeli oleh pengepul. Ini dalam persiapan memanen hasilnya,” ungkapnya saat ditemui bisnistuban.com di sawahnya, Jumat, (7/5).

Dari 4 pes bibit, Faizin menjelaskan bahwa dirinya mampu meraup omzet 35 juta dengan penyertaan modal keseluruhan 7 – 10 juta. Adapun waktu tanam hingga panen 60-65 hari. Dari lahan tersebut mampu menghasilkan 4-5 ton melon yang terdiri grade A – C.

Ia mengaku mulai serius menjadi petani di pertama menanam tahun ini karena biasanya hanya menanam padi di lahannya tersebut.

“Tepat di musim ini, melon banyak dicari di bulan Ramadan,” ujarnya.

Faizin mengatakan, harga panen sekarang dibeli pengepul Rp 7.000 per kg dalam posisi melon masih di sawah. Pengepul memborong semua melon dan ia terima bersihnya.

“Cara seperti ini umum dilakukan di desa saya,” ungkapnya.

Ia menuturkan segmentasi pasar melon masuk ke pasar induk di Jakarta, Surabaya, hingga Bali. Baik pasar modern dan tradisional. Untuk berat 3 kg kebawah masuk ke Jakarta dan Surabaya. Sedangkan berat di atas 3 kg dan 4 kg masuk ke Bali, Motivasi terbesar Faizin menjadi petani yakni omsetnya yang menggiurkan. Omsetnya besar dan diterima oleh pasar. Meskipun risikonya juga terkadang besar.

“Gak usah gengsi menjadi petani. Dalam berusaha apapun yang penting halal dan bermanfaat. Lakukan saja.” Pesan pemuda yang juga pengurus HIPPA di desanya. (Dinn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here