Foto: teknologi.id
Foto: teknologi.id
Sejak tahun 2020 kemarin, Indonesia sudah mulai memasuki era bonus demografi. Era ini ditandai dengan jumlah penduduk produktif atau penduduk dengan rentang usia 15 tahun sampai 64 tahun lebih besar dibandingkan penduduk usia non produktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi 60 persen lebih dari total jumlah penduduk.
Era bonus demografi ini nampaknya juga sudah mulai masuk di Kabupaten Tuban Jawa Timur. Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2020 kemarin, penduduk di Kabupaten Tuban didominasi oleh penduduk produktif.
Menggunakan pengelompokkan penduduk William H Frey, generasi milenial Tuban mendominasi struktur usia penduduk Kabupaten Tuban.
Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2020, penduduk dengan rentang usia 24 tahun sampai 39 tahun atau penduduk yang lahir pada tahun 1981-1996 mencapai 296.960 jiwa (24,70 persen) dari total populasi penduduk yang berjumlah 1.198.012 jiwa.
Sementara itu, untuk Generasi X atau penduduk dengan rentang usia 40 tahun sampai 55 tahun berjumlah 290.560 jiwa atau 24,25 persen. Sedangkan generasi Z atau penduduk dengan usia 8 tahun sampai 23 tahun jumlahnya mencapai 281.431 jiwa atau 23,49 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tuban, Eko Mardiana, menyampaikan bahwa tren dominasi penduduk produktif ini sudah merata di hampir seluruh daerah di Indonesia.
“Tren ini hampir seragam secara nasional maupun di tingkatan provinsi Jawa Timur,” kata Eko saat dihubungi bisnistuban.com di Tuban, Senin (15/2).
Untuk informasi, selain tiga generasi tadi, generasi Post Gen Z jumlahnya juga tak sedikit, penduduk dengan rentang usia sampai 7 tahun ini mencapai 104.857 jiwa atau 8,75 persen.
Sedangkan generasi Baby Boomer atau penduduk yang lahir pada tahun 1946-1964 jumlahnya mencapai 186.956 jiwa atau 15,61 persen. Untuk Pre-Boomer atau penduduk dengan usia 75 tahun ke atas jumlahnya mencapai 31.380 jiwa atau 2,62 persen.
Momentum bonus demografi sendiri dinilai bisa menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Sebab, dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) usia produktif yang melimpah hal ini akan mempermudah akselerasi peningkatan ekonomi.
Hanya saja, bonus demografi ini juga berpotensi menjadi bencana apabila tidak dipersiapkan dengan baik. Indonesia bisa saja terjebak ke dalam middle income trap atau kegagalan suatu negara untuk naik kelas dari pendapatan menengah-bawah (lower-middle income) ke menengah-atas (upper-middle income). (HK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here