Foto: bumninc.com
Foto: bumninc.com

BT.com, Tuban – Pandemi Covid-19 telah hampir setahun memukul perekonomian masyarakat Tuban. Tak pelak, bisnis-bisnis yang awalnya berjalan normal mulai merasakan dampaknya. Apalagi, bisnis yang dijalankan banyak yang bergerak di sektor mikro dan menengah atau UMKM.

Beberapa bulan yang lalu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tuban, Agus Wijaya menyebut, setidaknya ada 93.686 UMKM di Tuban terdampak pandemi.

Hal ini tentu menjadi pukulan berarti bagi ekonomi masyarakat. Apalagi, sebagian besar masyarakat Tuban bekerja di sektor UMKM. Kalau ini tidak segera ditangani, besar kemungkinan para pelaku UMKM terancam gulung tikar dan jurang kemiskinan akan terus melebar.

Oleh sebab itu, dibutuhkan akselerasi dan upaya revitalisasi dari para pemangku kebijakan agar bisnis UMKM bisa berjalan normal dan bangkit kembali.

Salah satu pilihan revitalisasi dan akselerasi yang bisa dilakukan adalah memperkenalkan pemasaran digital. Memperkenalkan pelaku UMKM agar melek digital bisa menjadi pilihan agar mereka bisa melakukan transformasi pemasaran dari konvensional ke digital.

Keuntungan dari transformasi ini adalah peningkatan pendapatan yang didapat dari meningkatnya jumlah penjualan daring (dalam jaringan) atau online.

Selain itu, digitalisasi bisnis juga akan membuka ruang dan peluang baru bagi para pelaku UMKM agar terhindar dari kebangkrutan yang disebabkan oleh krisis akibat pandemi.

Bagi pembeli, melakukan transaksi langsung secara daring dengan pelaku UMKM dapat menghemat 11 hingga 15 persen karena harga dari produsen langsung jelas lebih murah dibandingkan dengan harga ritel.

Hanya saja, digitalisasi bisnis ini masih belum mudah untuk diterapkan kepada pelaku bisnis UMKM di Tuban. Ada beberapa kendala yang menyebabkan pelaku bisnis UMKM untuk masuk dalam ekosistem digital.

Pertama, kemampuan para pelaku UMKM dalam penggunaan teknologi untuk pemasaran digital yang masih rendah.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), kesuksesan pelaku UMKM dalam memasarkan produknya melalui platform digital hanya 4 sampai 10 persen saja.

Penyebabnya adalah karena ketidakmampuan para pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan pola pemasaran digital.

Kedua, infrastruktur dasar yang belum mumpuni bagi pelaku UMKM untuk bertrasformasi ke arah digital. Saat ini, masih banyak pelaku UMKM yang belum memiliki smartphone yang layak untuk memasarkan produknya secara online.

Ketiga, beberapa daerah di Tuban belum memiliki jaringan yang stabil sebagai syarat mutlak untuk menjamah pemasaran digital. Apalagi, para pelaku UMKM ini berada di daerah terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau internet.

Hal ini tentu menjadi dilema tersendiri bagi stake holder. Sebab, jika tidak segera melakukan transformasi, pelaku UMKM akan digulung oleh pandemi. Namun, untuk bertransformasi, infrastruktur untuk perubahan itu sendiri banyak yang belum memenuhi syarat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here