Foto: ugm.ac.id
Foto: ugm.ac.id
BT.com, Tuban – Pandemi Covid-19 sudah setahun lebih melanda Indonesia. Bencana non alam ini mengakibatkan perekonomian porak-poranda. Hampir seluruh daerah mengalami konstraksi ekonomi atau pertumbuhan negatif, tidak terkecuali Kabupaten Tuban Jawa Timur.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban Tanggal 8 Maret 2021 kemarin, menyebutkan bahwa pada tahun 2020 perekonomian Tuban mengalami konstraksi sebesar 5,85 persen. Penyebabnya, pilar-pilar utama ekonomi Tuban dihajar oleh Covid-19.
Sektor Industri pengolahan mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 11,44 persen; Perdagangan Besar dan Eceran: Reparasi Mobil dan Sepeda Motor minus 9,69 persen; serta Penyedia Akomodasi dan Makan Minum minus 9,34 persen.
Memang, selama ini perekonomian Tuban didominasi oleh empat kategori lapangan usaha, diantaranya Industtri Pengolahan 27,70 persen; Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 20,25 persen; Perdagangan Besar dan Eceran:  Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 13,43 persen; serta Konstruksu sebesar 12,26 persen. Untuk 13 kategori lapangan usaha lainnya masing-masing menyumbang di bawah 9,00 persen.
BPS mencatat, seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur mengalami konstraksi ekonomi. Hanya saja, jika dibandingkan dengan dua kabupaten terdekat, yaitu Lamongan dan Bojonegoro, konstraksi yang terjadi di Tuban adalah yang paling parah.
Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 dinilai membatasi gerak dan aktivitas masyarakat. sehingga menjadi pemicu dan berdampak langsung terhadap perekonomian di daerah.
Adanya aturan pembatasan itu berdampak besar pada sektor-sektor lain, salah satunya adalah penurunan produksi dan permintaan pasar sehingga berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi.
Selain ekonomi yang mengalami pertumbuhan negatif, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Tuban juga mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya. PDRB per kapita adalah indikator tingkat kemakmuran penduduk secara makro di suatu wilayah atau daerah.
Pada tahun 2020 ini, PDRD per kapita Tuban sebesar 52,92 juta rupiah. Padahal tahun 2019 lalu, PDRB per kapita Tuban sudah mencapai 55,40 juta rupiah.
Tidak hanya itu, selama 4 tahun belakangan, PDRB per kapita Tuban selalu mengalami tren kenaikan. Pada tahun 2016 nilainya mencapai 45,21 juta rupiah, tahun 2017 naik menjadi 48,51 rupiah, tahun 2018 naik lagi menjadi 52,00 juta rupiah dan tahun 2019 mencapai 55,40 juta rupiah.
Lagi-lagi, penyebabnya adalah pengaruh Covid-19 dan diberlakukannya PSBB yang membatasi aktivitas dan ruang gerak masyarakat dan akhirnya berdampak pada berkurangnya aktivitas ekonomi.
Tren penurunan ini memang tidak hanya terjadi di Tuban. Namun, jika tidak segera diatasi hal ini akan berdampak semakin buruk terhadap perekonomian masyarakat. Rantai pasokan proses produksi dan perdagangan terganggu, konsumsi masyarakat terganggu, investasi terganggu dan kegiatan ekspor impor juga akan terganggu.
Pemerintah Kabupaten Tuban harus segera mengeluarkan kebijakan tertentu sebagai stimulan untuk mendongkrak perekonomian yang terkonstraksi akibat pandemi. Jika tidak, maka perekonomian masyarakat akan menjadi korbannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here