Foto: BPS Tuban
Foto: BPS Tuban
BT.com, Tuban – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tuban tahun 2020 kemarin mengalami penurunan signifikan. Tidak tanggung-tanggung, penurunannya hingga mencapai minus 5,85 persen.
Padahal, empat tahun belakangan ini pertumbuhan ekonomi terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Tuban mencapai 5,08 persen, tahun 2017 5,05 persen, tahun 2018 5,12 persen dan tahun 2019 kemarin mencapai 5,18 persen.
Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi sebuah daerah diukur dari Produk Regional Bruto (PDRB) harga konstan. Pada tahun 2020 ini, PDRB Tuban atas dasar harga konstan hanya mencapai 42,70 triliun. Angka itu mengalami penurunan jika dibandingkan capaian tahun 2019 sebesar 45,36 triliun.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tuban, Eko Mardiana, menyampaikan bahwa kontraksi atau pertumbuhan negatif ekonomi tidak hanya terjadi di Kabupaten Tuban, melainkan seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.
Hanya saja, penurunan paling parah terjadi pada daerah-daerah yang memiliki sektor lapangan usaha dominan. Struktur ekonomi Tuban sendiri didominasi oleh industri pengolahan, dalam hal ini industri galian bukan logam, salah satunya industri semen.
“Tuban ada semen, Kota Batu pariwisatanya drop, Kediri ada pabrik rokok dan Sidoarjo juga begitu,” kata dia kepada bisnistuban.com di Tuban, Jumat (12/3).
Eko menjelaskan, kontraksi ekonomi ini terjadi karena seluruh aktivitas perekonomian mengalami penurunan akibat adanya pandemi Covid-19 yang sudah melanda setahun belakangan.
Adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) maupun Pembatan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi gerak dan aktivitas masyarakat berdampak pada penurunan produksi dan permintaan pasar. Alhasil, hal ini berdampak langsung pada perekonomian daerah.
“Penyebabnya, dengan adanya pandemi ini semua aktivitas ekonomi multisektor turun semuanya,” tandasnya.
Namun, Eko berharap agar tidak ada kepanikan berlebihan mengenai kondisi tersebut. Sebab, kondisi semacam ini juga terjadi di hampir seluruh daerah.
Apalagi, dengan sudah mulai berjalannya vaksinasi massal, pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah juga mulai dilonggarkan, aktivitas ekonomi diharapkan akan kembali pulih dan meningkat lagi.
“Mudah-mudahan nanti dengan adanya vaksin ini, dengan masyarakat semakin tertib, walaupun sudah vaksin tapi tetap menggunakan prokes (protokol kesehatan) juga, aktivitas ekonomi semakin menjadi bagus lah. Nanti menjadi langsung go lagi. Jadi tidak usah terlalu panik juga,” tegasnya. (HK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here