Foto: Dinn
Foto: Dinn
BT.com, Tuban – PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban saat ini tengah menjalankan pembangunan lima tangki dalam rangka menambah kapasitas tampung hasil produksi. Selanjutnya akan disusul Revamping Project sebagai langkah untuk meningkatkan kapasitas produksi Petrochemical dari kilang yang ada.
Tidak berhenti disitu, TPPI juga mempersiapkan Olefin Project yang akan menghasilkan produk-produk turunan sebagai bahan baku produksi barang-barang keperluan masyarakat sehari-hari.
Untuk diketahui, proyek revamping TPPI berperan penting sebagai basis industri petrokimia yang memasok bahan baku olefin dan aromatik. Selain itu, hal ini juga untuk mendukung program substitusi impor yang dicanangkan pemerintah, sehingga secara signifikan dapat mengurangi impor bahan baku kimia dan defisit transaksi berjalan Indonesia.
PR & CSR Section Head PT. TPPI, Taheran Sidik Prabowo mengatakan, proyek revamping TPPI akan dilaksanakan pada awal 2022 bersamaan dengan pelaksanaan turn around. Ssehingga nanti pada kuartal I-2022 diharapkan kilang sudah dapat beroperasi secara penuh.
TPPI Olefin Complex akan menggunakan lahan milik PT. TPPI dengan luasan 100-120 hektar. Proses EPC proyek ini ditargetkan pada Desember 2021- Maret 2024 mendatang.
“Untuk saat ini masih dalam proses pematangan Engineering Plan dan setelah proses EPC ditargetkan bisa berproduksi mulai April 2024,” kata dia dalam keterangannya kepada bisnistuban.com, Kamis (4/3).
Taheran menyampaikan, tujuan pembangunan TPPI olefin Complex adalah untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik.
“Selain itu juga melahirkan industri-industri hilir yang akan membangun pabrik disekitar kawasan TPPI,” tandasnya.
Sekadar informasi, TPPI saat ini sedang menjalankan proyek revamping platforming dan aromatik yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas platforming unit dari 50.000 barrel per hari menjadi 55.000 barrel per hari dan kapasitas produksi paraxylene 600.000 ton per tahun menjadi 780.000 ton per tahun dengan biaya pembangunan sebesar USD 180 juta.
Sementara pekerjaan Basic Engineering Design Package (BEDP) yang dikerjakan oleh UOP sejak Maret 2020 telah selesai pada 25 September 2020. Sedangkan, pembangunan lima tangki secara keseluruhan bakal dikebut hingga pertengahan Desember 2021.
Proyek revamping ISBL akan dilaksanakan pada awal April 2022 bersamaan dengan pelaksanaan turn around, sehingga pada Juni 2022 diharapkan kilang sudah dapat beroperasi dengan kapasitas revamp
Terkait dengan dukungan TPPI untuk mengurangi produk impor paraxylene, perusahaan sudah mulai mengoperasikan unit produksi paraxylene sejak Agustus 2020 secara dual mode (menghasilkan produk petrokimia dan produk BBM) dan akan ditingkatkan secara bertahap.
Kebutuhan domestik paraxylene sekarang telah mencapai 1 juta ton per tahun. Sedangkan pemasok dari dalam negeri selain TPPI adalah Kilang RU IV Pertamina yang mempunyai kapasitas produksi sekitar 220.000 ton per tahun.
Untuk mengurangi impor paraxylene pada tahun 2021, TPPI akan memproduksi sejumlah 280.000 ton per tahun paraxylene selain juga memproduksi bahan bakar Pertamax.
Bersama dengan produksi paraxylene Pertamina RU IV Cilacap sebesar 220.000 ton per tahun, maka total produksi paraxylene dalam negeri menjadi 500.000 ton per tahun, atau dapat mengurangi impor hingga 50%.
Pada tahun 2022, dengan selesainya proyek revamping tersebut, TPPI akan dapat meningkatkan produksi paraxylene menjadi 780,000 ton per tahun, sehingga tambahan produksi tersebut dapat memenuhi seluruh kebutuhan paraxylene dalam negeri saat ini bersama-sama dengan Pertamina. (Dinn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here